Jumat, 18 Februari 2011

Sistem Golongan Darah


Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dengan kata lain, golongan darah ditentukan oleh jumlah zat (kemudian disebut antigen) yang terkandung di dalam sel darah merah (eritrosit). Antigen ini akan bereaksi dengan antibodi yang sesuai.

Ada dua jenis penggolongan darah yang paling penting, yaitu penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Selain sistem ABO dan Rh, masih ada lagi macam penggolongan darah lain yang ditentukan berdasarkan antigen yang terkandung dalam sel darah merah. Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Dan masing-masing sistem golongan darah itu bertanggung jawab atas beberapa sifat penyakit dan ciri-ciri fisik orang yang memilikinya.

Salah satunya Diego positif yang ditemukan hanya pada orang Asia Selatan dan pribumi Amerika. Dari sistem MNS didapat golongan darah M, N dan MN yang berguna untuk tes kesuburan. Duffy negatif yang ditemukan di populasi Afrika. Sistem Lutherans mendeskripsikan satu set 21 antigen. 

Selain yang tersebut di atas, beberapa contoh penggolongan darah yang lain, diantaranya adalah sebagai berikut Colton, Kell, Kidd, Lewis, Landsteiner-Wiener, P, Yt atau Cartwright, XG, Scianna, Dombrock, Chido/ Rodgers, Kx, Gerbich, Cromer, Knops, Indian, Ok, Raph, dan JMH.

Cara memeriksa golongan darah
Golongan darah ABO diperiksa dengan mengambil darah kapiler sebanyak 2 tetes yang diletakkan pada kaca objek terpisah. Tetes yang pertama ditambah 1 tetes serum yang mengandung anti-A, dan tetes kedua ditambah 1 tetes serum anti-B. Tambahkan larutan NaCl 0.9% secukupnya, kemudian lakukan pengenceran. Yang dilihat adalah reaksi aglutinasi (penggumpalan berbentuk bintik-bintik merah gelap atau merah kehitaman), yang terjadi antara aglutinin dan aglutinogen yang sesuai. Sama halnya dengan uji Rh. Serum yang ditambahkan mengandung anti-D (anti-Rh), sehingga jika tampak hasil aglutinasi berarti Rh positif, demikian sebaliknya.
Hasil yang terlihat dari uji golongan darah ABO adalah sebagai berikut:

Manfaat Pemeriksaan Golongan darah

Penting Untuk Transfusi

Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah berhubungan dengan kondisi medis seperti kehilangan darah dalam jumlah besar disebabkan trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah.

Singkatnya berdasarkan panduan dari apa yang telah dilakukan oleh Landsteiner, pada 1907, sejarah mencatat kesuksesan transfusi darah pertama yang dilakukan oleh Dr. Reuben Ottenberg di Mt. Sinai Hospital, New York.

Berkat keahlian Landsteiner pula banyak nyawa dapat diselamatkan dari kematian saat terjadi Perang Dunia I, dimana transfusi darah dalam skala lebih besar mulai dilakukan. Kemudian, Karl Landsteiner memperoleh penghargaan Nobel dalam bidang Fisiologi dan Kedokteran, pada tahun 1930 untuk jasanya menemukan cara penggolongan darah ABO.

Dalam transfusi darah, kecocokan antara darah donor (penyumbang) dan resipien (penerima) adalah sangat penting. Darah donor dan resipien harus sesuai golongannya berdasarkan sistem ABO dan Rhesus faktor.
Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian. Hemolisis adalah penguraian sel darah merah dimana hemoglobin akan terpisah dari eritrosit.

Pemilik rhesus negatif tidak boleh ditransfusi dengan darah rhesus positif. Jika dua jenis golongan darah ini saling bertemu, dipastikan akan terjadi perang. Sistem pertahanan tubuh resipien (penerima donor) akan menganggap rhesus dari donor itu sebagai benda asing yang perlu dilawan. Di dunia, pemilik darah rhesus negatif termasuk minoritas.

Tabel kecocokan golongan darah


Gol Darah Resipien
Donor harus
AB+
Golongan darah mana pun
AB-
O-
A-
B-
AB-
A+
O-
O+
A-
A+
A-
O-
A+


B+
O-
O+
B-
B+
B-
O-
B-


O+
O-
O+


O-
O-




Tabel kecocokan plasma
Resipien
Donor harus
AB
AB manapun
A
A atau AB manapun
B
B atau AB manapun
O
O, A, B atau AB manapun


Penting untuk Suami Istri

Selain hemolisis, ada kelainan genetik lain yang juga mengintai ibu (serta bayi yang tengah dikandung, bila kasus terjadi pada wanita atau ibu hamil). Terutama jika ibu berdarah rhesus negatif sedangkan suami berdarah rhesus positif. Masalah ini biasanya terjadi pada perkawinan antar bangsa.

Secara genetik, rhesus positif dominan terhadap rhesus negatif. Anak dari pasangan beda rhesus punya kemungkinan 50-100% berrhesus positif. Kemungkinan berrhesus negatif hanya 0-50%. Artinya rhesus si anak lebih mungkin berbeda dengan si ibu.

Jika tidak cepat ditangani, perbedaan rhesus antara calon bayi dengan ibu ini akan menimbulkan masalah. Lewat plasenta, rhesus darah janin akan masuk ke peredaran darah si ibu. Selanjutnya ini akan menyebabkan tubuh si ibu memproduksi antirhesus. Lewat plasenta juga, antirhesus ini akan melakukan serangan balik ke dalam peredaran darah si calon bayi. Sel-sel darah merah si calon bayi akan dihancurkan.

Pada kehamilan permata, antirhesus mungkin hanya akan menyebabkan si bayi lahir kuning (karena proses pemecahan sel darah merah menghasilkan bilirubin yang menyebabkan warna kuning pada kulit).

Tapi pada kehamilan kedua, problemnya bisa menjadi fatal jika anak kedua juga memiliki rhesus positif. Saat itu, kadar antirhesus ibu sedemikian tinggi, sehingga daya rusaknya terhadap sel darah merah bayi juga hebat. Ini bisa menyebabkan janin mengalami keguguran.

Jika sebelum hamil si ibu sudah mengetahui rhesus darahnya, masalah keguguran ini bisa dihindari. Sesudah melahirkan anak pertama, dan selama kehamilan berikutnya, dokter akan memberikan obat khusus untuk menetralkan antirhesus darah si ibu. Dengan terapi ini, anak kedua bisa diselamatkan.

Untuk alasan tersebut maka dianjurkan bagi pasangan yang akan menikah untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pranikah (premarital health checkup) dan bagi ibu yang ingin memiliki bayi dan atau yang telah dinyatakan positif hamil untuk segera memeriksa kesehatannya.

Namun, satu masalah yang tersisa adalah test laboratorium saat ini belum memungkinkan untuk melihat perbedaan dengan lebih jelas antara genotip (Rh+/Rh-) dan (Rh+/Rh+), karena keduanya menghasilkan Rhesus faktor yang sama yaitu Rh+.

Jadi, sudah tahu kan, bahwa golongan darah itu sangat penting untuk diketahui dan berguna untuk kehidupan. Ketahui golongan darah anda sekarang juga.
Ibu mengandung fetus dengan golongan darah berbeda
Sebagian besar ibu hamil mampu mempertahankan kehamilan terhadap fetus dengan golongan darah berbeda dengan baik. Darah fetus relatif lebih sedikit daripada darah ibu secara sistemik, sehingga golongan darah yang berbeda akan mendorong sistem imunitas ibu untuk membentuk antibodi terhadap eritrosit fetus. Antibodi tersebut berupa IgG, imunoglobulin yang dapat melewati plasenta, sehingga dalam jumlah besar dapat mengakibatkan hemolisis eritrosit fetus dan bayi akan mengalami penyakit hemolitik pada waktu lahir (ditandai dengan ikterus dan anemia berat). Hal ini sering ditemukan pada:
·         Ibu golongan darah O, fetus golongan darah A atau B (AB tentu tidak. Kenapa?). Hemolisis pada anak pertama biasanya lebih berat, anak-anak berikutnya tidak begitu berat. Apalagi kalau ayahnya golongan darah AB.
Ibu dengan Rh negatif, fetus dengan Rh positif. Hemolisis pada anak pertama biasanya tidak begitu berat, anak-anak berikutnya semakin berat (Alasannya sudah dibahas di bagian pertama tulisan ini).
Apakah golongan darah seseorang bisa berubah?
Biasanya tidak. Sebagian besar orang akan memiliki golongan darah yang sama sepanjang hidupnya, walaupun ia telah mendapat transfusi darah atau transplantasi organ non-sumsum tulang. Dalam kasus tertentu penyakit infeksi, keganasan (misalnya kanker lambung), penyakit autoimun (lupus eritematosus sistemik). Pengecualian untuk transplantasi sumsum tulang, karena  prosedur ini dapat mengubah golongan darah resipien menjadi sesuai dengan golongan darah donornya (biasanya berubah menjadi O). Belakangan pada tahun 2007, para ahli mengajukan hipotesis bahwa karena golongan darah tersusun dari sejumlah glikoprotein dan gula (karbohidrat), ada kemungkinan golongan darah dapat diubah dengan enzim tertentu. Penelitian terhadap hal ini masih bersifat eksperimental dan belum diujicobakan pada manusia.
Apakah golongan darah mencerminkan kerentanan terhadap penyakit tertentu?
Mungkin saja, namun penyakit itu tidak terkait dengan golongan darah yang biasa kita kenal. Dua contoh yang cukup signifikan dalam hal ini: Sistem golongan darah Kell yang berkaitan dengan kerentanan terhadap sindrom McLeod; serta sistem golongan darah Duffy yang berkaitan dengan kerentanan terhadap malaria (tidak ada antigen Duffy lebih kebal terhadap malaria).

1 komentar:

  1. artikel yang bagus....keep up y gan!:) makasih ud sharing

    BalasHapus