Kamis, 02 Juni 2011

Zaman Neolitikum

Zaman Neolitikum, disebut juga Zaman neolitik, merupakan fase atau tingkat kebudayaan pada zaman prasejarah yang mempunyai ciri-ciri berupa unsur kebudayaan, seperti peralatan dari batu yang diasah, pertanian menetap, peternakan, dan pembuatan tembikar.

Masa batu muda ini juga disebut sebagai masa bercocok tanam awal berkisar pada 1500 tahun yang lalu di Indonesia. Sebagian besar manusia pada jaman itu berasal dari ras Paleo-Mongoloid. Mereka mulai menetap dan membangun pertanian untuk hidup dengan menggunakan peralatan-peralatan sederhana seperti beliung yang ditemukan tersebar di kepulauan Nusantara bagian barat. Alat ini juga ditemukan di Yunan, Cina Selatan, Laos ini menunjukkan migrasi manusia dari utara melalui sungai Mekong. Di kepulauan Nusantara bagian timur ditemukan banyak kapak lonjong yang juga ditemukan di Jepang, Taiwan Filipina, Sulawesi Utara, Maluku, papua dan kepulauan Melanesia lainnya. 

Studi biologi tingkat lanjut menunjukkan bahwa struktur DNA dalam darah manusia-manusia di wilayah ini memiliki kemiripan, hal ini menunjukkan nenek moyang bangsa Indonesia sebagian berasal dari daratan Asia dan sebagian lagi merupakan percampuran dari Mongoloid dan Negroid,  terutama yang berada di kepulauan bagian timur. 

Dalam waktu senggang menunggu panen, mereka mulai memiliki waktu luang untuk memahami alam raya dan kekuatan-kekuatan yang Maha Besar, agar mempermudah hidup mereka. Maka mereka mulai membangun tempat-tempat pemujaan berupa batu-batu besar seperti menhir, bangunan batu berundak, dolmen dan patung-patung nenek moyang mereka, sehingga akhir zaman ini juga disebut sebagai masa megalitikum.

Pada zaman neolitikum, keadaan lingkungan alam cukup banyak berubah. Naiknya permukaan air laut menyebabkan daratan bertambah sempit. Udara menjadi lebih panas. Sehingga membuat daerah menjadi sangat kekeringan. Wilayah tempat manusia berburu makin sempit, sementara penduduk bumi semakin bertambah. Semua itu menyebabkan manusia tidak lagi dapat sepenuhnya menggantungkan diri dari perburuan. Mereka harus mampu menghasilkan makanan sendiri. Karena itu, manusia mulai membudidayakan tanaman dan beternak hewan tertentu.

Jadi manusia yang dulunya hanya menjadi pengumpul makanan kini menjadi penghasil makanan. Perubahan yang sangat mendasar itu sering disebut revolusi neolitikum, walaupun sebenarnya perubahan tersebut terjadi dalam jangka waktu yang lama. Pada masa bercocok tanam, pertukaran barang atau barter sudah dilakukan. Rupanya, di daerah yang kaya batuan, orang lebih banyak menambang batu untuk dibuat beliung, selain dipakai sendiri. Sebagian hasilnya ditukarkan dengan benda lain yang tidak dapat mereka hasilkan sendiri. Demikian juga, penduduk yang dapat membuat gerabah akan menukarkan sebagian hasil kerajinan mereka dengan barang lain, misalnya dengan garam atau ikan dari sebagian penduduk pesisir yang ada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar