Senin, 05 September 2011

Burung Kakatua

Update : 17/02/12

Kakatua (suku Cacatuidae) adalah jenis burung hias yang memiliki bulu yang indah dengan lengkingan suara yang cukup nyaring. Spesies ini termasuk salah satu burung dengan kecerdasan yang cukup bagus, sehingga sering digunakan untuk acara-acara hiburan di kebun binatang atau tempat hiburan lainnya.
Spesies ini hidup pada ketinggian 0-1520 meter dari permukaan laut, biasanya berkelompok. Kakatua pada umumnya berusia panjang, hingga mencapai 60 tahun bahkan lebih.


Habitat

Kakatua menghuni hutan primer dan sekunder yang tinggi dan tepi hutan; juga hutan monsun (Nusa Tenggara), hutan yang tinggi bersemak, semak yang pohonnya jarang dan lahan budidaya yang pohonnya jarang. Dari permukaan laut sampai ketinggian 900 m (Sulawesi), 1520 m (Lombok), 1000 m (Sumbawa), 700 m (Flores), 950+ m (Sumba) dan 500+ m (Timor). 

Sedangkan untuk jenis Kakatua Maluku (bahasa Inggris: Salmon-crested Cockatoo) biasanya hidup sendiri, berpasangan dan kelompok kecil; dahulu di pohon tidur berkelompok hingga 16 ekor. Umumnya tidak mencolok, kecuali pada saat terbang ke dan dari lokasi pohon tidur ketika petang dan menjelang fajar. 

Walaupun terlihat terbang di atas kanopi tapi kebanyakan terbang di bawah batas kanopi. Mencari makan dengan tenang di kanopi dan lapisan tengah kanopi dan memiliki sebaran lokal di daerah Seram, Ambon, Haruku dan Saparua. Kakatua menghuni hutan primer dan sekunder yang tinggi, hutan yang rusak dan hidup diatas permukaan laut sampai ketinggian 1000 m.

Kakatua Kepala (Chef cockatoo atau Cacatua gallerita)

Kakatua Kepala memiliki ukuran tubuh yang relatif besar dengan panjang, sekitar 32 - 52cm. Ciri khas pada kakatua ini adalah adanya jambul yang berwarna kuning di atas kepalanya. Tubuhnya diselimuti bulu berwarna putih dengan kombinasi warna kuning, terutama di bawah sayap dan ekornya. 
 
Lingkaran luar bagian matanya berwarna biru kepucatan atau berwarna putih, tergantung sub-spesiesnya. Burung ini memiliki lengkingan suara yang sangat tinggi dan keras.

Distribusi kakatua kepala banyak dijumpai di kepulauan Maluku dan Papua.

Meskipun jenis ini mempunyai 4 sub-spesies, tetapi di Indonesia hanya ada 2 sub-spesies, yaitu medium-chef cockatoo (C. g. Eleonora / C. g. aruensis) dan large-chef cockatoo (C. g. triton).Distribusi Medium-crested cockatoo dan kakatua kuning (yellow cockatoo / C. g. Eleonora / C. g. aruensis) antara lain terdapat di sekitar pulau Aru dan pulau Kai. Ukuran sayapnya antara 26,1 - 29,2 cm dan ini merupakan yang terkecil diantara spesies ini. Ciri lain dari kakatua ini adalah kelopak matanya yang berwarna sangat biru kepucatan.

Sedangkan large-chef cockatoo atau yellow-crested big-parrot (C. g. triton) banyak terdapat di sekitar Papua. Ukuran tubuhnya lebih besar dari C. g. Eleonora, dengan ukuran sayap antara 26,1 - 34,7cm. Kelopak matanya juga berwarna biru kepucatan.

Dua sub-spesies lainnya terdapat di Australia, yaitu C. g. galerita yang tersebar di sekitar Australia dan C. g. fitzroyi yang hanya terdapat di sekitar Australia bagian utara.

Kakatua-kecil Jambul-kuning  

Kakatua-kecil Jambul-kuning (bahasa Inggris: Yellow-crested Cockatoo) atau dalam nama ilmiahnya Cacatua sulphurea adalah burung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 33 - 35 cm, dari marga Cacatua. Burung ini hampir semua bulunya berwarna putih. Di kepalanya terdapat jambul berwarna kuning yang dapat ditegakkan. Kakatua-kecil jambul-kuning berparuh hitam, kulit di sekitar matanya berwarna kebiruan dan kakinya berwarna abu-abu. Bulu-bulu terbang dan ekornya juga berwarna kuning. Burung betina serupa dengan burung jantan.

Kakatua-kecil Jambul-kuning biasanya hidup berpasangan atau berkelompok dalam jumlah kecil. Sangat mencolok ketika terbang, dengan kepakan sayap yang cepat dan kuat, diselingi gerakan melayang serta saling meneriaki. Bila sedang bersuara dari tempat bertengger, jambul ditegakkan lalu diturunkan. 

Populasi burung ini banyak dijumpai hutan-hutan dataran rendah pada ketinggian sekitar 800 m di atas permukaan laut, khususnya di pulau Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. 

Spesies Kakatua ini mempunyai 4 subspesies
  1. Yellow-crested cockatoo (Cacatua sulphurea sulphurea). Sub-species ini dapat ditemukan di pulau Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya, seperti pulau Mina, Butung, dataran Jampea, Kayuadi, Kaleo, Kalatoa, Madi, dan pulau Tukangbes.
  2. Kakatua dengan kepala kuning-putih (White-orange-crested cockatoo atau C. s. titrinocristata), dapat ditemukan di pulau Sumba.
  3. Abbot-small Cockatoo (C. s. abboti) dapat ditemukan di pulau Masalembo dan pulau Masakambing.
  4. Kakatua Timor (Timor Cockatoo atau C. s. parvula) dapat ditemukan di pulau-pulau di daerah Nusa Tenggara, seperti di pulau-pulau Lombok, Sumbawa, Komodo, Rinca, Padar, Flores, Pantar, Alor dan pulau Timor Semau.

Jumlah populasi kakatua jenis ini telah tertekan secara mengejutkan dalam kurun 10 -15 tahun terakhir, akibat penangkapan yang berlebihan untuk kepentingan perdagangan burung dalam sangkar, dan sekarang menjadi langka, akibat kegiatan ini. Saat ini spesies burung ini telah masuk ke dalam jenis burung yang dilindungi.

Moluccan Cockatoo

Sesuai namanya Moluccan Cockatoo, berasal dari pulau Moluccan, Indonesia. Burung ini mempunyai panjang badan antara 40 - 50cm, dengan jambul dan bulu berwarna pink. Kelopak matanya berwarna putih dan paruhnya hitam. Pergerakannya lambat dan banyak tersebar di pulau-pulau Seram, Saparua dan Haruku.

Habitatnya terdapat di hutan-hutan dataran rendah pada ketinggian sekitar 100 - 1200 m dari permukaan laut.

Kakatua Raja (Probosciger aterrimus = Indonesia Palm Cockatoo)

Burung Kakatua Raja (Probosciger aterrimus) adalah sejenis burung Kakatua berwarna hitam dan berukuran besar, dengan panjang sekitar 60cm. Burung ini memiliki kulit pipi berwarna merah dan paruh besar berwarna kehitaman. Di kepalanya terdapat jambul besar yang dapat ditegakkan. Burung betina serupa dengan burung jantan.

Kakatua Raja adalah satu-satunya burung di marga tunggal Probosciger. Daerah sebaran burung ini adalah di pulau Irian dan Australia bagian utara. Pakan burung Kakatua Raja terdiri dari biji-bijian. Paruh burung Kakatua Raja tidak dapat tertutup rapat, dikarenakan ukuran paruh bagian atas dan bagian bawah yang berbeda. Dan ini berguna untuk menahan dan membuka biji-bijian untuk dikonsumsi.
Kakatua raja termasuk dalam hewan yang dilindungi sesuai dengan ketentuan Undang-undang no 5 th 1990.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar