Senin, 05 September 2011

Kelelawar


Kelelawar adalah mamalia yang dapat terbang yang berasal dari ordo Chiroptera dengan kedua kaki depan yang berkembang menjadi sayap.

Kelelawar memiliki berbagai ukuran, mulai dari yang terkecil di dunia yang dapat dijumpai di Thailand sampai yang terbesar dengan rentang sayap bisa mencapai 1,5 meter.

Kelelawar terkecil, dengan nama jenis Craseonyteris tholonglai ini memiliki ukuran sebesar ibu jari.Di Indonesia juga banyak terdapat kelelawar yang kecil, walau tak sekecil yang di Thailand, kalau orang Sunda, suka menyebutnya lalay. Kalong atau lazim dinamakan flying fox merupakan kelelawar merupakan kelelawar terbesar di dunia. Kelelawar dengan panjang rentang sayap lebih dari 1,5 meter ini dapatdijumpai di seluruh Indonesia.


Kerajaan:Animalia
Filum:Chordata
Kelas:Mammalia
Infrakelas:Eutheria
Superordo:Laurasiatheria
Ordo:Chiroptera
Blumenbach, 1779
 Subordo     Megachiroptera dan Microchiroptera

Klasifikasi
  • Pteropodidae (codot)
  • Emballonuridae (kelelawar ekor-trubus)
  • Megadermatidae (vampir palsu)
  • Nycteridae (kelelawar muka-cekung)
  • Rhinolophidae (kelelawar-ladam)
  • Hipposideridae (barong)
  • Vespertilionidae (kelelawar biasa)
  • Molossidae (kelelawar bibir-keriput)

Sisi Positif Kelelawar

Kelelawar pemakan buah termasuk diantaranya adalah kelelawar yang membantu penyebaran biji. Pada saat kelelawar memakan buah, kelelawar biasanya hanya mengunyah-ngunyah daging buahnya untuk diambil cairannya, sedangkan bagian serabut daging disepah dan bijinya dibuang. Akibatnya, biji menjadi bersih dari daging buah. Biji tersebut kemudian disebarkan kelelawar di luar habitat tumbuhnya sehingga kelelawar dikenal pula sebagai agen penyebar biji yang merangsang regenerasi hutan.


Kelelawar juga membantu dalam penyerbukan tumbuhan berbunga. Kelelawar penyerbuk yang juga termasuk kelelawar buah biasanya mencari makan di malam hari, memiliki mata besar, daya penciuman yang tajam, dan bisa terbang di sekitar bunga yang diserbukinya.


Jenis kelelawar ini memiliki metabolisme yang tinggi, ukuran tibuh yang lebih besar debandingkan dengan jenis agen polinator lainnya (Faegrl an van Pijl, 1979). Ketika mencari makan, kelelawar penyerbuk biasanya memasukan lidahnya kedalam bunga untuk mengecap nektar, polen akan memenuhi tubuh dan wajahnya, lalu polen ini akan dimakannya secara sengaja atau tidak disengaja ketika sedang membersihkan diri setelah selesai makan.


Selain sebagai penyebar biji dan penyerbuk, kelelawar juga membantu dalam mengendalikan serangga hama.


Kelelawar pemakan serangga jenis Tadarida plicata sangat berpotensi sebagai agen pengendali hama biologis. Hasil analisis guano atau feses predator utama serangga nokturnal ini mengindikasikan tingginya keberadaan serangga hama yang biasa dijumpai di daerah persawahan (Leela-paibul,et al., 2005).


Secara ekonomis, keberadaan kelelawar pemakan serangga ternyata sangat bernilai untuk meningkatakan produksi kapas dan jagung di delapan area studi negara bagian texas (Cleveland,et al., 2006)


Tiga peran penting kelelawar secara ekologis adalah membantu penyebaran biji, penyerbukan, dan mengendalikan serangga hama. Ketiganya sangat vital dalam dinamika ekosistem di sekitar kita.

Sistem Penentuan Arah dengan Gema pada Kelelawar

Kelelawar merupakan makhluk yang sangat menarik. Yang paling hebat dari kemampuannya adalah kemampuannya yang luar biasa dalam penentuan arah.
Kemampuan mengindera tempat dengan gema pada kelelawar ditemukan melalui serangkaian percobaan yang dilakukan oleh para ilmuwan. Mari kita simak lebih dekat percobaan-percobaan tersebut untuk mengungkap rancangan yang luar biasa pada makhluk ini.

Pada percobaan yang pertama, seekor kelelawar ditempatkan di sebuah ruangan yang gelap gulita. Di satu sudut pada ruangan yang sama, seekor lalat ditempatkan sebagai mangsa untuk kelelawar ini. Mulai saat itu, segala hal yang terjadi di ruangan tersebut dipantau dengan kamera-kamera malam hari (night camera). Begitu lalat terbang, kelelawar, dari sudut lain pada ruangan ini, dengan cepat bergerak langsung ke tempat lalat berada dan menangkapnya. Melalui percobaan ini, disimpulkan bahwa kelelawar tersebut memiliki indera yang sangat tajam dalam hal kepekaan bahkan dalam kegelapan yang sempurna. Meskipun begitu, apakah kepekaan kelelawar ini dikarenakan oleh indera pendengaran? Atau itu karena ia memiliki penglihatan yang terang di malam hari?

Untuk menjawab pertanyaan ini, percobaan kedua dilakukan. Pada suatu sudut di ruang yang sama sekelompok ulat bulu diletakkan dan ditutupi di balik selembar koran. Begitu dilepaskan, kelelawar tidak membuang-buang waktu untuk mengangkat lembaran koran tersebut dan memakan ulat-ulat tadi. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan penentuan arah kelelawar tidak ada kaitannya dengan indera penglihatan.

Para ilmuwan melanjutkan percobaan mereka terhadap kelelawar: sebuah percobaan baru dilakukan di lorong yang panjang, yang pada satu sisinya ada seekor kelelawar dan di sisi lainnya sekelompok kupu-kupu. Di samping itu, serangkaian dinding-dinding penyekat dipasang tegak lurus terhadap dinding ruangan. Di tiap penyekat, ada satu lubang tunggal yang cukup besar bagi kelelawar untuk terbang melewatinya. Akan tetapi, lubang-lubang ini ditempatkan pada titik berbeda di setiap dinding penyekat. 

Dengan demikian, kelelawar harus terbang dengan jalur berliku melaluinya.
Percobaan menunjukkan bahwa kelelawar mampu dengan mudah menentukan kedudukan dan terbang melalui lubang di dinding dalam gelap gulita.
Para ilmuwan memulai pengamatannya segera begitu kelelawar dilepaskan ke dalam kegelapan ruangan di lorong tersebut. Ketika kelelawar sampai pada penyekat pertama, ia menentukan tempat lubangnya dengan mudah dan melewatinya dengan baik. Hal yang sama terpantau di seluruh dinding penyekat: kelelawar terlihat tidak hanya tahu di mana penyekat berada melainkan juga di mana tepatnya lubang berada. Setelah melalui lubang terakhir, sang kelelawar pun mengisi perutnya dengan tangkapannya.

Karena terpesona dengan apa yang mereka amati, para ilmuwan memutuskan untuk melakukan percobaan terakhir untuk memahami tingkat kepekaan penginderaan kelelawar. Tujuannya kali ini adalah untuk menentukan batas kemampuan penginderaan kelelawar lebih jelas. Sekali lagi, lorong panjang disiapkan dan kawat baja bergaris tengah 3/128 inci (0,6 mm) digantungkan dari atap hingga lantai lorong dan ditempatkan secara acak melaluinya. Semakin besar kekaguman para pengamat, karena sang kelelawar menyelesaikan perjalanannya tanpa terantuk pada satu hambatan pun. Daya terbangnya ini menunjukan bahwa kelelawar mampu menentukan rintangan dengan ketebalan setipis 3/128 inci (0,6 mm). 

Penelitian setelahnya mengungkapkan bahwa kemampuan penginderaan kelelawar yang luar biasa ini terkait dengan sistem penentuan tempat dengan gema, yang dimilikinya. Kelelawar memancarkan suara berfrekuensi tinggi untuk menentukan benda-benda di sekitarnya. Pantulan suara ini, yang tidak terdengar oleh manusia, memungkinkan kelelawar mendapatkan sebuah "peta" lingkungannya. 

Jadi, penginderaan kelelawar atas seekor lalat dimungkinkan dengan suara yang dipantulkan kembali pada kelelawar dari lalat tersebut. Kelelawar yang menentukan letak dengan gema ini mengingat setiap gelombang suara yang keluar dan membandingkan yang asli dengan gema yang kembali kepadanya. Waktu yang habis antara dikeluarkannya suara dengan diterimanya gema yang datang memberikan penentuan yang tepat mengenai jarak sasaran dari sang kelelawar. 

Sebagai contoh, pada percobaan ketika kelelawar menangkap ulat-ulat di lantai, kelelawar mengindera ulat dan bentuk ruangan dengan memancarkan suara bernada tinggi dan menentukan sinyal-sinyal yang terpantul. Lantai memantulkan suara tersebut, sehingga kelelawar dapat menentukan jaraknya terhadap lantai. 

Sebaliknya, ulat bulu berada sekitar 3/16 inci (0,5 cm) hingga 3/8 inci (1 cm) lebih dekat pada kelelawar dibandingkan dengan lantai. Di samping itu, hal ini menambah waktu dan nantinya mengubah frekuensi yang terpantau. Dengan cara inilah kelelawar mampu menentukan keberadaan ulat bulu di lantai. Ia memancarkan sekitar dua puluh ribu gelombang per detik dan mampu menelaah semua suara yang terpantul. Bahkan, ketika ia menjalankan tugasnya, kelelawar itu sendiri pun terbang. Pemikiran yang seksama atas semua kenyataan ini dengan jelas mengungkap rancangan yang hebat dalam penciptaan mereka.

Sifat lain yang menakjubkan dari sistem penentuan tempat dengan gema ini adalah kenyataan bahwa pendengaran kelelawar telah tercipta sedemikian rupa sehingga ia tidak dapat mendengar suara lain selain dari yang dipancarkannya sendiri. Lebar frekuensi yang mampu didengar oleh makhluk ini sangat sempit, yang lazimnya menjadi hambatan besar untuk hewan ini karena Efek Doppler. Berdasarkan Efek Doppler, jika sumber bunyi dan penerima suara keduanya tak bergerak (jika dibandingkan dengan benda lain), maka penerima akan menentukan frekuensi yang sama dengan yang dipancarkan oleh sumber suara. Akan tetapi, jika salah satunya bergerak, frekuensi yang diterima akan berbeda dengan yang dipancarkan.


Dalam hal ini, frekuensi suara yang dipantulkan dapat jatuh ke wilayah frekuensi yang tidak dapat didengar oleh kelelawar. Dengan demikian, kelelawar tentu akan menghadapi masalah karena tidak dapat mendengar gema suaranya dari lalat yang bergerak.

Sistem yang digunakan oleh kelelawar untuk menentukan kedudukan mangsanya jutaan kali lebih efisien dan tepat sasaran dibandingkan dengan radar dan sonar buatan manusia. Tabel di atas dengan jelas memperlihatkan hal ini. "Indeks efisiensi penentuan tempat dengan gema (Indeks ekholokasi)" adalah rentang yang dibagi dengan berat barang dikali kekuatan, dikali garis tengah sasaran. "Angka perbandingan hasil" membandingkan indeks efisiensi penentuan tempat melalui gema, di mana kelelawar adalah angka 1.
Akan tetapi, hal tersebut tidak pernah menjadi masalah bagi kelelawar karena ia menyesuaikan frekuensi suara yang dikirimkannya terhadap benda bergerak seolah sang kelelawar telah memahami Efek Doppler. Misalnya, kelelawar mengirimkan suara berfrekuensi tertinggi terhadap lalat yang bergerak menjauh sehingga pantulannya tidak hilang dalam wilayah tak terdengar dari rentang suara.
Jadi, bagaimana pengaturan ini terjadi?
Di dalam otak kelelawar, terdapat dua jenis neuron (sel saraf) yang mengendalikan sistem sonar, satu di antaranya mengindera suara ultrasonik (suara di atas jangkauan pendengaran kita) yang terpantul dan lainnya memerintahkan otot untuk menghasilkan jeritan untuk membuat gema penentuan tempat. Kedua neuron ini bekerja dalam suatu kesesuaian yang sempurna sehingga penyimpangan amat kecil pun dalam sinyal terpantul akan memperingatkan sinyal berikutnya dan menghasilkan frekuensi jeritan senada dengan frekuensi gema. Karenanya, nada suara ultrasonik kelelawar berubah menurut lingkungannya untuk efisiensi sebesar-besarnya.
Mustahil mengabaikan gelombang yang diperlukan sistem ini untuk menjelaskan teori evolusi karena kebetulan. Sistem sonar pada kelelawar terlalu rumit sifatnya sehingga tidak dapat dijelaskan oleh evolusi melalui mutasi acak. Keberadaan semua bagian sistem secara serentak penting artinya agar dapat dimanfaatkan. Kelelawar tidak hanya harus mengeluarkan suara bernada tinggi melainkan juga memproses sinyal terpantul dan bermanuver serta menyesuaikan jeritan sonarnya pada saat yang sama. Umumnya, semua ini tidak dapat diterangkan dengan kebetulan dan hanya bisa menjadi suatu pertanda pasti tentang betapa sempurnanya Allah menciptakan kelelawar.

Penelitian ilmiah lebih jauh mengungkap contoh-contoh baru keajaiban pada penciptaan kelelawar. Melalui setiap penemuan baru yang menakjubkan, dunia ilmu pengetahuan mencoba memahami bagaimana sistem ini bekerja. Sebagai contoh, penelitian baru terhadap kelelawar telah memberi temuan yang amat menarik dalam tahun-tahun belakangan. 

Diketahui bahwa kelelawar berkeliling melalui jalan-jalan berbeda setelah meninggalkan gua. Namun mereka selalu terbang kembali ke gua menempuh jalan yang lurus, langsung ke gua dari mana pun mereka berada. Masih belum diketahui bagaimana mereka mampu menentukan arah pulang ke gua.
Beberapa Ilmuwan yang ingin menguji sekelompok kelelawar yang tinggal di suatu gua, memasang pemancar pada beberapa anggota kelompok. Kelelawar-kelelawar diamati ketika meninggalkan gua di malam hari dan makan di luar hingga fajar. Mereka menemukan bahwa beberapa kelelawar melakukan perjalanan sejauh 30-45 mil (50-70 kilometer) dari gua tersebut. Temuan yang paling mengherankan adalah mengenai kepulangannya, yang dimulai sesaat sebelum matahari terbit. Semua kelelawar terbang pulang dalam garis lurus ke gua masing-masing dari mana pun mereka berada. Bagaimana kelelawar dapat mengetahui di mana dan sejauh mana keberadaan mereka dari gua asal mereka?

Kita masih belum mempunyai pengetahuan yang terperinci tentang cara mereka menemukan jalan pulang. Ilmuwan tidak meyakini sistem pendengaran memiliki dampak besar atas perjalanan pulang. Mengingat kelelawar sepenuhnya buta cahaya, para ilmuwan berharap menemukan suatu sistem lain yang mengejutkan. Pendek kata, ilmu pengetahuan terus mencari keajaiban baru mengenai penciptaan kelelawar.


Cara Menemukan Bunga


Saat kelelawar mendarat pada sebuah bunga dan menusukkan moncongnya kedalam celah antara kelopak untuk mencapai madu, hal ini akan menyebabkan dua kelopak (petal) lainnya melontarkan serbuk sari ke tubuh sang kelelawar, dan kemudian sang kelelawar membawanya ke bunga lain. Selain harus mampu menemukan sebuah bunga, sang kelelawar juga harus menemukan celah untuk moncongnya. 
Bagaimana ia melakukan hal ini dengan pandangan yang buruk dan dalam kegelapan? Bagaimana sebuah bunga mencegah kelelawar kedua mendarat, hingga pasokan serbuk sarinya kembali pulih?
Sang kelelawar tampaknya dapat mengenali sebuah bunga berdasarkan gema yang ia peroleh saat ia mengirimkan letupan ultrasonik ke bunga tersebut. Faktanya, kelopak (petal) beberapa bunga berbentuk terompet sehingga ia dapat dengan mudah mengembalikan gema yang dapat dideteksi oleh seekor kelelawar. Sebagai contoh, kelopak bunga Mucuna holtonii berbentuk terompet yang membalikkan gema dengan sangat kuat ke kelelawar bahkan saat ia mendekatinya dari samping ke muka bunga (bunga ini adalah versi akustik dari retroreflektor optik yang dipakai sepeda atau pagar di tikungan jalan agar dapat terlihat saat disinari lampu mobil di malam hari). Kelopak atas bunga terangkat saat ada serbuk sari. Setelah sang kelelawar pergi meninggalkan bunga dengan serbuk sari di tubuhnya, kelopak atas mengerut, sehingga bentuk terompetnya hilang.


Karenanya, kelelawar kedua tidak akan mendapatkan gema yang kuat dari bunga ini.  Kemudian di tengah malam, saat pasokan serbuk sari kembali ada, kelopak atas kembali tegak, membentuk terompet kembali dan sekali lagi, memberikan gema yang kuat bagi kelelawar yang  mungkin mendarat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar