Tuesday, 3 September 2013

Bagan, Myanmar



Bagan (pengucapan [pəɡàN]), di Myanmar, adalah sebuah kota tua yang terletak di Divisi Mandalay, Myanmar. Kota tua yang dibangun sekitar abad ke 11 sampai 13 ini, merupakan peninggalan kerajaan Bagan atau Kerajaan Pagan. Sebelumnya wilayah ini dijuluki Arimaddanapura atau Arimaddana dan juga disebut Tambadipa atau Tassadessa. Kota yang juga dikenal sebagai kota sejuta pagoda ini, sebelumnya merupakan ibukota dari beberapa kerajaan kuno di Burma.

Bagan, sekarang, mencakup areal seluas kurang lebih 42 kilometer persegi.  Daerah seluas ini banyak dihiasi dengan ribuan pagoda kuno, stupa, kuil, aula pentahbisan dan monumen. Bagan merupakan salah satu situs arkeologi terkaya di Asia Tenggara yang memiliki 2230 monumen yang masih berdiri, tetapi sayangnya ada sekitar 1000 monumen yang sudah jadi reruntuhan, Pada awalnya terdapat sekitar 4500 monumen, tetapi sebanyak 600 diantaranya hilang terbawa banjir Ayeyarwady-Irawadi. 

Bagan, sekarang dapat dibagi menjadi tiga zona. Zona yang pertama adalah Nyang-U, yang merupakan pusatnya para turis. Di sini banyak hotel, rumah makan, kafe, dan penyewaan kendaraan. Zona kedua adalah Kota Tua Bagan, yang memiliki banyak peninggalan pagoda dan kuil. Tempat itu merupakan tujuan wisata para turis. Zona terakhir adalah New Bagan, yang sudah banyak bangunan modern dan memang tidak diperuntukkan bagi wisata karena hanya ada permukiman penduduk.

Kompleks Kota Tua Bagan adalah semacam area yang dikelilingi benteng. Tapi benteng itu kini tinggal puing-puingnya saja. Di dalam kompleks itu terdapat candi dan kuil, di antaranya Kuil Ananda Phaya, yang dianggap paling suci; Candi Thatbyinnyu, yang merupakan candi tertinggi; dan Candi Gawdawpalin, yang menjadi salah satu tempat peribadatan terbesar di Bagan. Di luar kompleks kota tua Bagan terdapat candi yang bernama Candi Htilomino.

Bagi masyarakat awam mungkin akan sedikit bingung untuk membedaka antara candi, kuil dan pagoda. Di sini orang agak lebih mudah untuk memahami perbedaan antara candi, kuil, dan pagoda. Kuil di dalamnya ada lorong (buat pedagang) dan ada ruang (biasanya berisi patung Buddha untuk berdoa). Sementara itu, candi adalah bangunan yang biasanya tidak ada ruang untuk berdoa, jadi hanya sebuah bangunan. Sedangkan pagoda adalah bangunan seperti candi tapi memiliki stupa,yang biasanya dilapisi emas. Ada juga situs yang memiliki gabungan candi dan kuil. Untuk membedakan satu pagoda yang dianggap sakral dengan yang tidak, dapat dilihat dari banyaknya penduduk yang berjualan di depan halaman pagoda. Yang mereka jual adalah sesajen berupa rangkaian bunga dan cendera mata untuk wisatawan. Tidak mengherankan jika kita akan dikerubuti para pedagang itu ketika akan memasuki pagoda.


Kuil yang terbesar adalah  Candi Ananda dan Pagoda Shwezigon. Kuil ini sangat mirip dengan Sukhothai di negara Thailand dan beberapa tempat di Kamboja, tetapi kawasan ini jauh lebih besar, selain itu juga terdapat pagoda yang sangat besar. Di samping itu juga terdapat pagoda Shwesandaw Phaya, yang merupakan lokasi dimana para turis paling banyak menggunakannya sebagai tempat untuk melihat matahari terbenam. Persis di depan banguna pagoda ini, terdapat bangunan memanjang yang di dalamnya terdapat sebuah patung Budha yang sedang tidur dengan ukurang yang sangat besar, sebesar bangunan tersebut.

Bagan dapat diakses lewat udara dari Yangon, Mandalay atau Heho (Taungyi) selama kurang lebih satu jam penerbangan. Kuil Bagan juga dapat dicapai lewat jalan darat dari Yangon, sejauh kurang lebih 683 kilometer. Perjalanan dengan menggunakan bus dapat ditempuh dalam waktu sekitar 16 jam. Namun jika menggunakan mobil yang disediakan musafir, mungkin dapat mengurangi waktu tempuh sekitar 2 jam, tetapi karena situasi medan dan jalan-jalan yang ada di Myanmar, perjalanan yang sedemikian ini dapat saja membuat stres dan penuh ketegangan selama dalam perjalanan. Tetapi dengan adanya berbagai kemajuan dan adanya jalan tol, perjalanan ini dapat ditempuh menjadi sekitar 11 jam perjalanan, dengan menggunakan bus malam.

Bagan juga dapat diakses dengan naik perahu, selama kurang lebih 2 minggu perjalanan dari Yangon. Jika Anda datang sebagai turis internasional, akses terbaik adalah perjalanan melalui Bandara Bangkok dan Yangon.

Pagoda Shwezigon

Pagoda Shwezigon memiliki stupa berwarna keemasan di bagian tengahnya. Pagoda ini merupakan bangunan pertama yang dibangun di Burma pada tahun 1087. Pagoda yang cantik ini, pada awalnya dibangun oleh Raja Anawrahta, tetapi baru diselesaikan oleh Raja Kyanzitta. Ternyata pagoda ini merupakan prototype pembangunan Pagoda Shwedagon yang tersohor itu.

Selain terdapat bangunan pagoda dengan atap tradisional Burma yang khas, dalam kompleks Shwezigon juga terdapat candi batu bata, yang masih tegak berdiri dan bangunan-bangunan lain berwarna putih, sehingga menimbulkan warna warni yang sangat kontras dengan langit biru.

Di bagian tenggara pagoda ini, terdapat patung 37 Nat (Spirit) yang dipercaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Burma. Dan sebagai salah satu pagoda yang tertua di Bagan, Shwezigon merupakan tempat diakuinya ke 37 Nat oleh Kerajaan Burma.

Lokasi Pagoda ini berada di sebelah kanan dari jalan Bagan – Nyaung Oo Utara, tepat setelah melewati stasiun bis. Jalan menuju Pagoda, di sepanjang lorong lebar, para pedagang kaki lima yang sangat ahli menjual, tampak memenuhi pelataran.

Thagya Pone

Thagya Pone terletak di bagian awal di jalan Bagan – Nyaung Oo.Pagoda yang dibangun oleh Raja Kyansittha pada abad 13 ini, merupakan Pagoda 2 lantai dengan pelataran luas pada lantai atas. Pada lantai 1 terdapat Patung Buddha dalam keadaan duduk dengan dekorasi yang masih asli di bagian dinding dan langit-langitnya. Pemandangan luar biasa tentang hamparan pagoda di Bagan dapat dilihat dari pelataran di lantai atas.  

Htilominlo Pahto

Pagoda ini dibangun oleh Raja Nantaungmya. Pagoda ini merupakan pagoda terakhir yang dibangun di Bagan dengan gaya Myanmar. Raja membangun pagoda ini untuk memperingati terpilihnya dia sebagai Putra Mahkota diantara 5 saudaranya di tempat ini. Pada saat itu pemilihan raja ditandai dengan dipayunginya calon raja. Htilominlo sendiri bermakna ‘disukai oleh Raja dan Payung Kerajaan (hti = payung).

Didalamnya terdapat empat patung Buddha keemasan dalam keadaan duduk di setiap arah mata angin. Yang menarik adalah banyaknya ukiran cantik dan dekorasi yang menghiasi langit-langit dan pinggiran pagoda serta pintu-pintu masuk pagoda yang cukup besar ini.

Upali  Thein

Upali Thein merupakan bangunan tempat para pendeta berkumpul (Sima). Bangunan ini berseberangan dengan Pagoda Htilominlo, dan berada di pinggir jalan Utama dengan hiasan pohon flamboyan yang cantik. Dibangun oleh seorang pendeta bernama Upali pada pertengahan abad 13. Bentuk pagoda menyerupai Khmer.

Di sini, menurut sejarah, banyak lukisan yang sangat indah di dinding hingga ke langit-langit atas yang dibuat pada akhir abad 17 atau awal abad 18 yang menceritakan kehidupan Sang Buddha Gautama.
 
Gerbang Tharabar

Memasuki Gerbang Tharabar, artinya kita memasuki kota Tua Bagan. Gerbang yang dibangun oleh Raja Pyinbya pada tahun 849 merupakan satu-satunya yang tersisa dari tembok yang mengelilingi kota Tua Bagan. Gerbang Tharabar ini hanya ada di bagian Timur kota, sementara yang barat dan utara sudah lenyap tergerus sungai Irrawaddy. Menurut sejarah ada 12 gerbang. Tharabar sendiri berasal dari kata Pali, Sarabhanga yang berarti terlindungi dari panah. Penduduk lokal biasanya tidak melewati begitu saja gerbang ini tanpa mendapatkan berkah dari spirit-spirit yang dipercaya menjaganya (Nat).

Shwegugyi

Pagoda Shwegugyi berada di depan Royal Palace atau dikenal dengan nama Burma Nandaw Oo Phaya (Pagoda di depan Istana Kerajaan). Pagoda ini bermakna Gua Keemasan dan dibangun oleh Raja Alaungsithu di tahun 1140. Merupakan salah satu dari pagoda yang masih utuh di daerah Bagan, sehingga tidak memerlukan banyak imajinasi untuk  membayangkan kehebatan kehidupan di Bagan pada jaman dulu.

Menurut legenda, pagoda Shwegugyi yang dibangun dalam waktu 7 bulan 7 hari ini memiliki kisah kelam dibaliknya. Kabarnya, ketika usia telah lanjut, fisik Raja Alaungsithu menjadi sakit-sakitan, sehingga Sang Anak Raja memindahkannya dari istana ke pagoda Shwegugyi serta membiarkannya menderita agar wafat dengan sendirinya. Namun, bukannya mangkat, Sang Raja bahkan mendapatkan kembali kesadaran dan kesembuhan. Tetapi malang, kesadarannya membuat gelap mata Sang Anak dan ia pun langsung membunuh Sang Raja.

Pagoda Mahaboddhi

Pagoda Mahaboddhi yang bergaya India ini, dibangun pada abad 12 oleh Raja Nantaungmya. Pagoda ini memang meniru Pagoda Mahaboddhi yang ada di Bodhgaya, Bihar, India, yang merupakan tempat asli Sang Buddha menerima pencerahan.

Arsitektur yang menjulang keatas dari dasar yang berbentuk bujursangkar dan didekorasi oleh celah-celah berisi patung Buddha yang sedang duduk ini, memang sangat berbeda dengan arsitektur pagoda Burma pada umumnya yang berbentuk seperti genta atau nanas.

Di bagian dalam atau bagian kanan pagoda, terdapat stupa dan reruntuhan pagoda yang terbuat dari batu bata yang dihiasi oleht hiasan pagoda yang detil. Di Mahaboddhi ini terdapat banyak pohon flamboyan dengan bunganya yang bermekaran berwarna oranye, sangat kontras dengan keadaan sekitarnya yang gersang dan penuh debu.

Ananda Phaya

Pagoda tersuci di Bagan, adalah Ananda Phaya, yang dibangun oleh Raja ketiga Bagan, Raja Kyanzittha di tahun 1105. Kata Ananda sendiri bermula dari kata Pali “Anantapannya”, yang artinya kebijaksanaan tanpa batas.

Pagoda ini berisikan 4 Buddha Keemasan dengan posisi berdiri yaitu Buddha Kassapa menghadap Selatan, Kakusanda menghadap Utara, Konagamana dengan posisi mudra tangan terentang kebawah (bermakna mengelola terhadap penderitaan) menghadap Timur dan Buddha Gautama dengan abhaya mudra (posisi tangan terbuka di depan dada seperti menahan dengan makna tidak takut) menghadap Barat. Keempat patung Buddha yang telah mencapai Nirwana ini tingginya mencapai hampir 10 meter. 

Menurut informasi, hanya Buddha Kassapa dan Kakusanda yang lebih bergaya Bagan dan memiliki posisi mudra dhammachakka (posisi tangan saat Sang Buddha memberi pelayanan pertama) yang masih asli, sedangkan dua patung lainnya yang lebih bergaya Mandalay merupakan replika karena sebelumnya terbakar. Seluruh patung Buddha terbuat dari kayu jati utuh, tetapi ada yang mengatakan bahwa Buddha Kassapa yang menghadap arah selatan terbuat dari perunggu. Di dekat kaki Buddha Gautama terdapat patung seukuran manusia yang merepresentasikan Raja Kyanzittha dan Shin Arahan, pendeta Buddha yang mentahbiskan Raja menjadi Buddhist Theravada.

Bentuk pagodanya sendiri secara keseluruhan bergaya Mon, dan seantero Bagan merupakan pagoda yang tercantik, yang paling bisa terselamatkan dari seluruh pagoda di Bagan. Pada tahun 1990 dalam rangka memperingati 900 tahun pembangunan Ananda Phaya, puncak stupa dilapisi emas. Sementara lapisan luar seluruh dinding tetap berwarna putih yang dibersihkan secara periodik.

Ananda didirikan berdasarkan legenda 8 pendeta Buddha yang menceritakan kenyamanan meditasi di tempat mereka di Himalaya kepada Raja Kyanzittha. Sang Raja yang memang ingin memiliki pagoda sejuk di dataran Bagan yang panas dan membosankan, kemudian menyuruh para arsiteknya mendirikan pagoda ini. Setelah pagoda ini terbangun, Raja membunuh seluruh arsiteknya agar keunikan teknik sejuk dari pagoda ini tetap terjaga.

Sebenarnya struktur pagoda ini sangat sederhana. Bagian Utama yang berukuran 53 meter di setiap sisinya, dan dekorasi serupa Stupa Utama menjulang ke atas. Koridor masuk dibuat membentuk salib sempurna dengan setiap ujung koridor memiliki dekorasi menyerupai stupa. Yang mengagumkan adalah pintu dari kayu jati berukir yang sangat besar, yang memisahkan ruang dalam dari ruang-ruang bagian luar. Ceruk-ceruk di sekitar Ruang Utama berisikan patung-patung berlapis emas termasuk patung reclining Buddha ukuran kecil. Dekorasi dan ukiran yang cantik terutama dekorasi pintu bagian atas juga patung-patung penjaga pintu. 

Untuk ke Ananda, berbeloklah ke kiri dari jalan selatan Bagan – Nyaung U sebelum Gerbang Tharaba, dan disambut dengan sejumlah pedagang kaki lima yang menjajakan souvenir. Namun begitu masuk ke dalam, nikmati saja keindahan patung Buddha seisi pagoda. Lengkung-lengkung di kiri kanan lorong menuju Pagoda ini memang sangat cantik untuk dinikmati.

Ananda Oakkyaung
 
Ananda Oakkyaung merupakan bangunan biara yang terbuat dari batu bata dan berada tepat di sebelah Pagoda Ananda Phaya. Biara ini dibangun oleh Raja Kyanzittha pada tahun 1137. Ananda Oakkyaung sendiri bermakna Biara dari Batu Bata, sedangkan Ananda sendiri bermakna kebijaksanaan tanpa batas. 

Di dinding bagian dalam mengisahkan kehidupan Sang Buddha dan sebagian tentang sejarah Bagan. Di biara ini terdapat kisah seorang pendeta Buddha, Shin Thuddhamma Linkara, yang karena kebaikan hati Sang Raja, dapat tinggal dan bermeditasi dengan tenang di dekat Pagoda Ananda.

Thatbyinnyu

Pagoda Thatbyinnyu adalah pagoda berwarna putih yang menjulang dan terlihat dari jauh. Pagoda ini, dibangun oleh Raja Alaungsithu pada abad 11. Thatbyinnyu sendiri bermakna ‘mengetahui akan pengetahuan secara menyeluruh dan melihat secara luas’

Pagoda ini merupakan salah satu pagoda besar tertua yang berlantai dua dan tertinggi. Namun mengingat usia pagoda yang sudah ratusan tahun dan untuk menjaga kelestariannya, akses untuk ke lantai dua ditutup. Jendela-jendela di lantai satu dan dua yang terbuka dan terlihat dari lorong bagian dalam membuat pagoda ini terasa tinggi dan berangin. Pagoda ini memang menarik, terutama pada beberapa pintu gerbang yang berlengkung-lengkung.

Di bagian barat daya terdapat bangunan batu bata yang konon digunakan untuk menggantung genta besar. Menurut cerita, Raja Alaungsithu mempersembahkan dua genta besar selama berkuasa. Satu genta terdapat di Thatbyinnyu dan satu lagi di Shwegugyi. Genta ini terbuat dari perunggu murni, lebih menakjubkan dari 5 genta yang dipersembahkan oleh kakeknya, Raja Kyansittha.

Keunikan lain di sebelah timur laut pagoda ini terdapat pagoda kecil yang menurut cerita menjadi pagoda penghitung. Setiap 10000 batu bata yang dibuat pada pagoda Thatbyinnyu, disisihkan sebuah batu bata. Jadi hitung saja berapa batu bata yang digunakan untuk membangun Thatbyinnyu.

Di depan Pagoda Thatbyinnyu terdapat pohon flamboyan dengan bunga oranye yang memberi warna cantik di sekitaran pagoda dengan bangku bercat biru muda di bawahnya.Pagoda tertinggi pada abad 11 ini (66 meter), berada di Bagan Lama, setelah Gerbang Tharabar jalan kedua di bagian kiri jalan.

Dhammayangyi

Pagoda terbesar di Bagan yang berbentuk seperti pyramid dan memiliki kissah menarik dibaliknya ini, dibangun oleh Raja Narathu pada tahun 1163 – 1165 untuk menebus kesalahannya mengkhianati ayah, kakak dan juga isterinya, walaupun akhirnya ia sendiri dibalas dengan pengkhianatan pula. Keeksentrikan Sang Raja terefleksi dalam pekerjaan peletakan batu bata yang sangat halus (kabarnya ia menghukum peletak batu-bata karena kecerobohannya meletakkan batu-bata, sehingga terlihat jarak antar batu-bata).

Pembangunan Pagoda yang tidak selesai dan akhirnya terabaikan ini berjalan selama tiga tahun dengan disain awal menyerupai Pagoda Ananda; dengan dua koridor mengelilingi bagian dalam dan empat ruang dalam menghadap arah mata angin. Namun karena problem struktural yang terjadi mendekati saat penyelesaiannya, koridor dan ruang dalam ditutup dengan batu bata. Begitu banyak teka-teki dan misteri kelam yang menyelubungi Pagoda ini, sehingga terkenal sebagai pagoda yang berhantu untuk sebagian orang.

Walaupun demikian, temboknya sangat halus. Setiap arah mata angin terdapat Patung Buddha besar berjubah merah hati dalam posisi duduk dan di sebagian tembok-temboknya terdapat lukisan-lukisan asli tentang kehidupan sang Buddha dan kehidupan masyarakat Bagan saat itu. Di salah satu arah mata angin, terdapat patung Reclining Buddha dalam ceruk dan dibaliknya terdapat 2 patung Buddha dalam posisi duduk bersebelahan yang hanya terdapat di Pagoda Dhammayangyi ini.


Pagoda Dhammayangyi berlokasi sekitar 1 kilometer di sebelah tenggara jalan Anawratha dan memiliki gerbang depan yang tinggal berupa reruntuhan.

Pagoda Sulamani

Pagoda ini, didirikan oleh Narapatisithu pada tahun 1183 dan terkenal akan ilustrasi dan dekorasi cantik di sekeliling temboknya. Pagoda Sulamani ini berlantai dua dan menyerupai piramida dengan teknik peletakan batubatanya termasuk yang terbaik di area Bagan. Sayang, sebagian dari pagoda mengalami kerusakan akibat gempa besar pada tahun 1975.

Patung Buddha keemasan terdapat pada keempat arah mata angin dengan posisi duduk. Dan memang pada dindingnya terdapat Ilustrasi mengenai kehidupan Sang Buddha dan kehidupan di Bagan yang masih sangat jelas dan terpelihara.


No comments:

Post a Comment