Saturday, 24 September 2011

Interferon

Interferon adalah keluarga dari protein-protein yang terjadi secara alami yang dibuat dan dikeluarkan oleh sel-sel sistem imun (contohnya, sel-sel darah putih, sel-sel pembunuh alami, fibroblast-fibroblast, dan sel-sel epithelial). Berat molekul interferon relatif besar, berkisar 20-30 kDa.

Interferon sebenarnya bukan obat, tetapi protein yang diproduksi secara alami oleh sel di dalam tubuh untuk melindungi tubuh dari serangan berbagai penyakit, termasuk penyakit infeksi dan kanker. Memang awalnya obat ini dikembangkan untuk terapi kanker. Tapi, saat ini, selain untuk terapi kanker, interferon digunakan untuk terapi berbagai penyakit, termasuk hepatitis B dan hepatitis C. Untuk beberapa penyakit yang belum ditemukan obatnya, interferon juga menjadi alternatif utama walaupun tingkat penyembuhannya tidak begitu tinggi. Untuk terapi hepatitis , misalnya, efektivitasnya tidak lebih dari 30 persen.

Interferon sebagai "multidrug", juga menjadi alternatif pada terapi SARS yang belum ditemukan obatnya. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa interferon mampu meredam perkembangbiakan virus corona-SARS secara in vitro. interferon juga sedang dicoba digunakan untuk melawan virus dengue (virus penyebab Demam berdarah), meski hasilnya juga masih belum memuaskan. 

Terdapat tiga kelompok interferon yang telah diidentifikasi:
  1. alpha,
  2. beta, dan
  3. gamma.
Setiap kelompok mempunyai banyak efek, meskipun efek-efeknya saling tumpang tindih. Interferon-interferon yang tersedia secara komersial adalah interferon manusia yang dibuat menggunakan teknologi recombinant DNA. Mekanisme aksi dari interferon adalah sangat kompleks dan belum dimengerti dengan baik. Interferon-interferon memodulasi respon sistem imun pada virus-virus, bakteri-bakteri, kanker, dan senyawa-senyawa asing lain yang menyerang tubuh. 

Meskipun interferon adalah sangat serupa, namun pengaruhnya terhadap tubuh bisa sangat berbeda. Oleh karenanya, interferon yang berbeda digunakan untuk kondisi yang berbeda pula. Sebagai contoh Interferon alpha digunakan untuk merawat penyakit kanker dan infeksi-infeksi virus; interferon beta digunakan untuk merawat multiple sclerosis; dan interferon gamma digunakan untuk merawat penyakit granulomatous kronis.
Dilihat dari struktur tiga dimensinya, interferon alpha dan beta memiliki kemiripan (homology) yang tinggi dan sering dinamakan interferon I. Sementara itu, interferon gamma memiliki struktur yang berbeda dan biasanya juga disebut interferon II.

Dalam kondisi normal, gen regulator untuk produksi interferon berada pada posisi off hingga interferon tak diproduksi. Tetapi, pada saat ada rangsangan dari luar, baik infeksi virus maupun bakteri, switch gen regulator ini menjadi on dan sistem produksi interferon berjalan. Pada saat ini, interferon diproduksi berbagai sel yang berhubungan dengan sistem pertahanan tubuh. Misalnya, sel B, sel natural killer (NK), dan makrophage. Interferon Alpha dan beta, selain memiliki aktivitas sebagai antivirus, juga mempunyai efek inhibitor terhadap pertumbuhan sel (cell growth inhibitor), dan lain-lain. Semua fungsi itu berhubungan dengan sistem pertahanan tubuh manusia dan makhluk mamalia lainnya.

Berbeda dengan interferon alpha dan beta yang diproduksi diberbagai sel, interferon gamma hanya diproduksi sel NK ketika mendapat rangsangan dari mitogen, substansi yang menyebabkan mitosis (pembelahan nukleus), atau antigen lainnya. Walaupun diproduksi di sel yang berbeda dengan mekanisme yang berbeda pula, interferon gamma memiliki efek yang sama dengan dengan interferon alpha dan beta. 

Interferon ini langsung berperan dalam sistem pertahanan tubuh dengan cara menyerang virus, bakteri, tumor dan substansi lain yang akan merusak tubuh.

Pada kondisi normal, tubuh akan memproduksi interferon setiap mendapat serangan dari berbagai agen penyakit. Namun, umumnya jumlah yang diproduksi tidak mencukupi untuk melawan agen penyakit yang berkembang biak sangat cepat.

Karena itu, suplai interferon dari luar sangat diperlukan. Ini menjadi salah satu terapi yang termasuk ke dalam jenis imunoterapi (immunotherapy). Inilah yang menjadi ide awal penggunaan interferon sebagai obat.

Pada kebanyakan penyakit, terapi yang digunakan adalah kemoterapi, yakni terapi dengan menggunakan senyawa kimia yang digunakan pada umumnya spesifik untuk agen penyakit tertentu. Alhasil, senyawa tertentu hanya bisa untuk terapi penyakit tertentu. Misalnya: Cyclophosphamide - menjadi topik hangat di Indonesia saat ini karena tidak diproduksi lagi - adalah obat yang hanya bisa menyembuhkan kanker. Begitu juga, zidovudine, didanosine, lamivudine, dan stavudine adalah obat untuk terapiAIDS/HIV. Ini disebabkan obat-obat tersebut hanya mampu menekan agen penyakit yang bersangkutan.

Berbeda dengan kemoterapi, imunoterapi menjadikan sistem imun tubuh sebagai targetnya. Karena sistem imun ini berhubungan dengan hampir semua penyakit, imunoterapi bisa diaplikasikan untuk semua jenis penyakit. Dengan demikian, interferon bisa digunakan sebagai "multidrug" untuk terapi berbagai penyakit.

Efek obat akan lebih baik jika obat tersebut tidak hanya berfungsi sebagai defense, yakni menahan diri dari serangan, tetapi juga sebagai offense, yaitu mampu menyerang agen penyebab penyakit. Karena itu, sebelum digunakan sebagai obat, efek interferon terhadap perkembang biakan agen penyakit juga diuji terlebih dahulu. Dan, dari hasil beberapa penelitian, interferon menunjukan kemampuannya sebagai antivirus.

Interferon-interferon tidak secara langsung membunuh sel-sel virus atau yang bersifat kanker; mereka menaikan respon sistem imun dan mengurangi pertumbuhan dari sel-sel kanker dengan mengatur aksi dari beberapa gen-gen yang mengontrol pengeluaran dari banyak protein-protein selular yang mempengaruhi pertumbuhan. 

Manfaat Interferon

Karena interferon dapat meningkatkan sistem imun dengan beberapa cara, maka mereka dapat digunakan untuk banyak penyakit yang melibatkan sistem imun. Contohnya:
  • Interferon alfa-2a (Roferon-A) disetujui oleh FDA untuk merawat hairy cell leukemia, AIDS-related Kaposi's sarcoma, dan chronic myelogenous leukemia.
  • Interferon alfa-2b disetujui untuk perawatan dari hairy cell leukemia, malignant melanoma, condylomata acuminata, AIDS-related Kaposi's sarcoma, hepatitis C kronis, dan hepatitis B kronis.
  • Ribavirin dikombinasikan dengan interferon alfa-2b, interferon alfacon-1 (Infergen), pegylated interferon alfa-2b, atau pegylated interferon alpha-2a, semua disetujui untuk perawatan dari hepatitis C kronis.
  • Interferon beta-1b (Betaseron) dan interferon beta-1a (Avonex) disetujui untuk perawatan dari multiple sclerosis.
  • Interferon alfa-n3 (Alferon-N) disetujui untuk perawatan dari kutil-kutil genital dan perianal yang disebabkan oleh human papillomavirus (HPV).
  • Interferon gamma-1B (Actimmune) disetujui untuk perawatan dari penyakit granulomatous kronis, dan osteopetrosis yang parah dan berbahaya.
Efek Samping

Masalahnya walaupun interferon berfungsi ganda, yaitu melindungi tubuh dari serangan penyakit dan sekaligus membunuh agen penyebab penyakit, obat ini masih mempunyai beberapa kelemahan. Pertama adalah adanya efek samping. Penggunaan interferon akan menimbulkan efek samping berupa gejala demam, termasuk panas dan sakit kepala.

Penggunaan interferon dalam waktu yang lama akan menyebabkan turunnya daya lihat dan bahkan rontoknya rambut. Kelemahan kedua adalah masa terapi lama bahkan sampai lebih dari satu tahun. Ini akan menyusahkan pasien karena konsumsi interferon biasanya melalui infus.

Pemberian interferon dapat memberikan efek samping yang mirip dengan gejala-gejala flu, seperti demam, menggigil, sakit kepala, sakit-sakit dan nyeri-nyeri otot, malaise. Efek ini dapat terjadi pada pemberian semua jenis interferon. Gejala-gejala ini bervariasi dari ringan sampai parah dan terjadi pada sampai setengah dari senua pasien-pasien. Gejala-gejala cenderung berkurang dengan suntikan-suntikan yang berulang dan mungkin dikendalikan dengan analgesik seperti acetaminophen (Tylenol) dan antihistamines seperti diphenhydramine (Benadryl). 

Kerusakan jaringan pada tempat suntikan juga dapat terjadi pada pemberian semua jenis interferon, namun lebih sering terjadi setelah pemberian interferon beta-1b dan pegylated interferon alfa-2b. 

Depresi dan bunuh diri telah dilaporkan diantara pasien-pasien yang menerima interferon-interferon; meskipun, belum jelas apakah depresi dan pikiran-pikiran bunuh diri tersebut disebabkan oleh penyakit-penyakit yang sedang dirawat atau interferon-interferon itu sendiri. Oleh karenanya, semua pasien yang menerima perawatan dengan interferon harus diamati perkembangan dari depresi dan pikiran-pikiran bunuh diri. 

Efek samping lain yang mungkin terjadi dengan semua interferon-interferon dan yang mugkin disebabkan oleh dosis-dosis yang lebih tinggi adalah:
  • kelelahan,
  • diare,
  • mual,
  • muntah,
  • nyeri perut,
  • sakit-sakit persendian,
  • nyeri tulang belakang, dan
  • dizziness.
Anorexia, congestion, denyut jantung yang meningkat, kebingungan, jumlah sel darah putih yang rendah, jumlah platelet yang rendah (thrombocytopenia), jumlah sel darah merah yang rendah, dan peningkatan pada enzim-enzim hati, peningkatan pada triglycerides, ruam-ruam kulit, rambut rontok yang ringan atau penipisan rambut, pembengkakan (edema), batuk, atau kesulitan bernapas telah dilaporkan. Reaksi-reaksi alergi dan anaphylactik mungkin juga terjadi. 

Beberapa interferon-interferon berhubungan dengan gagal hati dan tes-tes fungsi hati yang periodik direkomendasikan selama terapi.

Interaksi Obat

Interferon alfa-2a, interferon alfa-2b dan interferon beta-1b mungkin akan meningkatkan konsentrasi dari zidovudine (AZT, Retrovir) dalam darah. Meskipun reaksi ini mungkin memperbaiki keefektifan dari zidovudine, tetapi juga mungkin akan meningkatkan resiko keracunan darah dan hati. Oleh karenanya, dosis dari zidovudine mungkin perlu dikurangi sebanyak 75%. 

Interferon alfa-2a dan interferon alfa-2b dapat meningkatkan waktu eksresi dan eliminasi yang diperlukan oleh theophylline dari tubuh, sehingga dosis theophylline mungkin juga perlu dikurangi.  

Interferon-interf eron yang tersedia 
  • Roferon-A (interferon alfa-2a)
  • Intron-A (interferon alfa-2b)
  • Alferon-N (interferon alfa-n3)
  • PegIntron (peginterferon alfa-2b)
  • Avonex (interferon beta-1a)
  • Rebif (interferon beta-1a)
  • Betaseron (interferon beta-1b)
  • Extavia (interferon beta-1b)
  • Infergen (interferon alfacon-1)
  • Actimmune (interferon gamma-1b)
  • Pegasys (peginterferon alfa-2a)
  • Peginterferon (peginterferon alfa-2a dan Ribavirin)
  • PegIntron/Rebetol combo pack (peginterferon alfa-2b dan Ribavirin)

No comments:

Post a Comment